Masih ingatkah engkau akan hujan?
Rintik demi rintik hujan yang turun membasahiku mengingatkan aku akan saat itu. Karna hujan adalah kenangan yang paling indah. Jika diingat ingat kembali, pertemuan kita yang lucu dan perpisahan kita yang terlalu sederhana membuat hati ini merasa ingin tertawa, karena tangis sudahlah habis untuk dikeluarkan.
Pernahkah kamu merasa kehilangan? Kesepian ataupun perbedaan? Itu tidak mungkin terjadi padamu.
Rasanya lama sekali kita tidak berbincang, jika ku hitung ini mungkin sudah hampir dua minggu. Terasa tenang, namun terkadang berat, menerima keadaan bahwa aku bukan siapa siapa lagi. Aku yang kini tergantikan hanya dapat mengulang kembali kisah yang dulu pernah terlewati dalam benak yang kian menyempit, semakin hari mungkin akan semakin terlupakan, atau mungkin semakin hari semakin menyisakan luka? Andai kau tau, betapa hancurnya hati ini, berharap engkau kembali.
Selasa, 17 November 2015
Haruskah kembali?
Senin, 19 Oktober 2015
Waktu
Angin menerpa di keriuhan, nampaknya semua merasa bahagia didalam candaan, mereka bercanda gurau. Ditengah keramaian ini aku bertanya-tanya, apakah hanya aku sendiri di sini yang merasa bahwa aku masih tak dapat mengalihkan pikiran ku yang masih terus terbayang bayang oleh sosok nya yang sangat sulit untuk di lupakan. Lama tak berjumpa mungkin akan lebih mudah untuk melupakan, namun itu berbanding terbalik dengan kenyataan yang aku rasakan, sabagian hati ini masih mencari keberadaan nya, tak menghiraukan apa yang telah terjadi sebelumnya, namun hati ini merasa hampa, hilang, kemudian pergi. Mungkin dia tak pernah merasakan apa yang aku rasakan selama ini, tapi aku berterimakasih atas apa yang telah ia lakukan padaku. Menghargai itu pasti, namun kekecewaan atasnya tak kunjung berhenti sampai disini, di setiap kuputar ulang lagu kenangan itu, tiap nadanya menyayat hati menggores pilu. Derai mata yang bercucuran jatuh membasahi lembaran kenangan usang di genggaman. Menginginkan nya untuk di hancurkan oleh hati yang telah hancur. Yang memungkin kan semuanya di renggut oleh keangkuhan atau mungkin ke tidak tulusaan akan suatu hati yang tulus. Mungkinkah semuanya dapat berbalik? Tanyakan waktu, akankah sudi berpihak padaku?
Minggu, 11 Oktober 2015
Hujan
Hujan hari ini turun pertama kali di SMA, tak ada yang berbeda sama sekali dengan hujan biasanya, tapi yang berbeda mungkin hanyalah aku, di tengah kecerian dan kebersamaan teman-teman ku yang lain, aku diam di tempat duduk ku, menulis cerita ini dengan ditemani lagu lagu mellow yang membawa suasana hati ini tenang, walau tampaknya tidak bahagia. Namun mungkin setidaknya aku masih dapat merasakan ketenangan. Ketenangan di atas rasa kecewa, mungkin kalianpun dapat memahami nya. Aku berubah? Ya aku tau! Mengapa? Mungkin karena dia. Di SMA aku merasa telah kehilangan diriku sendiri, aku tidak pernah lagi merasakan yang namanya bahasia bersama teman, walau teman SMA ku yang baru ini sangat baik, perhatian, dan senang bergurau. Tapi tetap saja aku masih sulit untuk tertawa lepas di atas beban.
Wahai hujan, mrngapa kau turun di langit senin senja? Apa engkau sengaja untuk melukiskan ingatan ku di pelupuk mata ini? Dan kemudian menginginkan adanya tetes air mata mengalir mengingat bagaimana dulu aku bahagia? Cukup! Aku lelah dengan kebahagiaan yang berujung kekecewaan. Kini kebencian tersirat mendalam di hati. Menusuk jantung, meremukan rusuk, dan melukai hati.
Atau hujan datang untuk menyembunyikan tetesan air mata ini? Karna di tengah hujan deras ini, derai mata mustahil untuk terlihat.
Saat hujan adalah saat saat oraang bersuka cita mereka riang gembira di bawah hujan, walau sebagian mungkin tidak sebahagia mereka, aku lah salah seorang dari mereka yang tidak menyukai hujan, harena hujan terlalu bahagia, aku benci bahagia, karena bahagiaku telah hilang.
Minggu, 27 September 2015
Pernah bahagia
"hai!" sapanya sambil melambaikan tangan ke arahku. Akupun secara tidak langsung menengok ke arahnya, dan membalasnya dengan senyum hangat, kemudian berkata "hai!". Hanya itu yang dapat keluar dari bibirku, tak kuasa untuk berkata hal yang lebih pada nya. Karena terlintas kembali apa yang dulu terjadi, seakan semuanya telah berbalik, yang tadinya aku sangat peduli namun ia tidak, sekarang aku sudah malas, bosan juga lelah untuk peduli, semua ini terjadi saat aku telah merasa kecewa. Kekecewaan ini terlalu banyak, dan akan merasa lebih kecewa lagi saat mengingat kebahagiaan singkat yang pernah aku rasakan. Namun luka ini terasa tak berakhir begitu luas dan dalam. "Mau pergi ke mana?" tambahnya. "emm.. Mungkin ke sana." jawabku ragu. "kalau begitu ayo, aku juga mau ke sana" ajaknya.
Semua semakin terasa aneh, ada yang mengganjal dari sikap nya yang kini jauh lebih manis dari pada sebelum nya.
Apa mungkin ini ada kaitannya dengan amarahku? Ataukah dia mencoba untuk memahami ku? Jika iya begitu, aku bersyukur, karena tidak selalu harus aku yang merasakan sakit di sini.
"hai! Hari ini kamu ekstra kurikuler?" tanya nya sambil berjalan ke arahku.
"tidak, memang nya kenapa?" jawab ku.
"Apa kamu mau pulang sekarang? " lanjut nya. "seperti nya iya, tapi aku ragu." balasku. "Ragu? Maksudmu?" tanya nya bingung. "Aku belum melihat Nz." jawabku sambil mencari Nz (Nz adalah teman ku, kita biasanya pulang bersama)
"Dia tadi sudah pulang duluan, ayo kamu ikut aku saja" ucapnya "Apa tidak keberatan?" tanyaku "Tentu tidak." lanjutnya dengan senyum lebar. "Kalau begitu, iya" jawabku.
Walau aku dan dia tidak seperti dulu, kini aku dan dia sudah lebih baik dari yang sebelumnya.
"wah ini hujan ya?" tanya ku. "wah hujan nya semakin besar, bagaimana ini?" ucapnya balik bertanya. "kalau begitu, lebih baik kita berteduh saja dulu di depan mini market itu" jawabku sambil menunjuk ke arah mini market yang aku maksud.
Alam serasa berpihak pada kami, menunggu hujan reda dengan nya, memang menyenangkan , terlebih ketika canda tawa mulai tergambar di sana.
Tak terasa waktu menunjukan pukul 5.03 sore, itu berarti kami sudah berteduh kurang lebih satu jam. Karena perkiraan hujan tidak akan reda, kami nekat menerobos derasnya hujan. "yakin mau sekarang?" tanya nya. "aku sih tidak masalah." jawab ku.
Saat di jalan canda tawa tak terhindarkan, sulit rasanya untuk berhenti tertawa. Kekonyolan nya yang sengaja ia buat agar aku tertawa benar benar ampuh saat itu.
Sahabat prioritas utama untuk ku, yang lain bukan. Mungkin semakin hari kalimat itu menjadi bukti bahwa aku lebih nyaman dan bahagia. Di cerita ini tidak seharusnya aku yang selalu tersakiti, aku juga ingin untuk bahagia dalam kisah cerita ini. Tidak akan ada yang tau bagaimana cerita ini akan berakhir. Entah bahagia ataupun sebaliknya. Tapi setidaknya dalam cerita ini aku pernah bahagia.
Sabtu, 19 September 2015
Kebesaran Hati
Ketika pagi menyapa, matahari tampak di ufuk Timur untuk menerangi harapan baru yang dibawa pagi ini.
Melakukan semuanya dengan cara nya masing-masing, tidak akan menghiraukan siapapun yang menghalangi. Karena mereka tak tau apa yang sedang di lakukan, dan untuk apa melakukan. Kekecewaan yang telah lama di rasa mungkin akan berubah menjadi amarah yang dengan seketika dapat menghancurkan semuanya, tak terkecuali persahabatan.
Amarah sangatlah kuat, mungkin ia lah yang terkuat, tapi hati yang besar untuk memaafkan dapat mengalahkan kekuatan amarah yang sangat kuat.
Kebesaran hati memang sulit untuk di cari, juga sulit untuk dilakukan, dengan begitu tak banyak orang yang memiliki jiwa pemaaf.
Terkadang, memaafkan diri sendiripun sulit, terlebih memaafkan orang lain yang telah berbuat kesalahan. Tentu itu akan jauh lebih sulit. Karena walau semua sudah selesai, kadang kesalahan yang mereka perbuat terlintas lagi di benak kemudian merasa sulit untuk memaafkan dan melupakan kesalahan yang telah diperbuat.
Karena kesalahan yang mereka perbuat sudah melekat layaknya bayangan, akan selalu ada dan akan terlihat jika ada cahaya, kemudian menghilang seiring hilangnya cahaya.
Jika mereka mengatakan bahwa kebenaran akan selalu menang, sejenak terlintas difikiran bahwa sebenarnya mereka belum pernah merasakan arti dari kebenaran. Karena kebenaran akan selalu terasa menyakitkan dan akan terlihat lemah saat menang. Karena saat kebaikan menang di atas kejahatan, kebaikan akan selalu merendah kemudian memaafkan. Tapi, taukah kalian bahwa ternyata itulah yang sebenarnya dikatakan bahwa kebaikan akan selalu menang. Kebaikan akan menang dengan cara yang berbeda, kebaikan menang bukan karena telah menjatuhkan lawan, akan tetapi kebaikan telah menang melawan emosi dan ego yang ada pada dalam diri. Untuk itu, kebesaran hati yang sangat diperlukan disini❤
Rabu, 16 September 2015
Masih yang dulu
Tanpa seorangpun tau, bahwa ia rasanya ingin sekali berteriak mengeluarkan emosi yang telah lama ia pendam. Juga rasa tak sanggup untuk bersikap seperti itu kepadanya yang menghantuinya seakan ia sesali. Awalnya ia pikir lelaki itu akan bertanya, atau mungkin menyadari apa yang sedang terjadi. Berharap adanya sapaan, Tapi nyatanya tak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibirnya kecuali tatapan mata seolah heran dan tak mengerti.
Hanyalah kekecewaan yang membekas di hati ini, amarah yang tadinya membara telah hilang seiring hilanya lelaki itu dikehidupan si gadis.
Tampak sebuah penyesalan yang kini ada pada hati gadis ini, karena amarah dapat menghancurkan dan merubah segalanya.
Amarah telah merubah gadis ramah ini menjadi marah. Amarah telah merubah gadis lugu menjadi garang. Amarah yang merubah gadis bahagia ini terpuruk.
Tapi Ia telah sadar apa yang harus ia lakukan, kini hanya perlu menunggu siapakah yang akan memulai? dia atu gadis ini? berharap semuanya selesai dengan cepat agar tak lagi ada beban yang gadis ini pikul.
Gadis ini telah kembali menjadi dirinya yang dulu, karena ia masih gadis yang dulu. tak ada yang berubah.
Minggu, 13 September 2015
Gadis Kecil
Senin, 07 September 2015
Matahari senja
Tak ada untung nya menangisi orang yang tidak menghargai mu, yang hanya membuatmu kecewa dengan semua kebohongan yang ia lontarkan entah untuk apa. Cinta tak lagi buta, kini cinta datang pandang bulu. Melihat dan memilih kepada siapa ia akan datang dan dari siapa dia pergi. Kini tak lagi ada cinta yang ikhlas, yang tulus, yang sederhana. Jika itu semua ada, itu semua hanyalah kebohongan yang tampak manis di awal dan akan terasa pahit saat kau mempertahankan nya. Merasa hancur. Ya pasti akan seperti itu pada akhirnya. Lukisan indah di awal, dan imajinasi indah di akhir seaakan terhapus badai dan guntur dalam hati. Raga yang berdiri kian tergoncang, berjalan dengan senyum tanpa jiwa yang hidup, jiwa ini telah lama hilang seiring hilangnya dirinya. Tertawa di kekosongan hati bagai menangkap angin, terasa namun sulit untuk dilakukan. Matahari senja ku kini telah hilang, bersinar untuk yang lain, yang lebih indah, yang lebih elok, yang lebih dari aku.
Kesepian, kedinginan, dan keterpurukan yang kini menghampiri ku. Masihkah ada awan di sana untuk memayungiku dari panasnya matahari senja yang bersinar di sana? Adakah rintik hujan yang dapat melahirkan pelangi indah untuk menggantikan matahari senjaku yang hilang? Kicauan burung yang dulu selalu menjadi melodi indahku kini telah hilang mereka enggan bernyanyi untuku. Kupu-kupu yang dulu menari nari di langit senja kini tak muncul. Tak ada lagi yang dapat menghibur gadis malang ini yang hanya dapat menunggu sebuah keajaiban datang kepadanya.
Sabtu, 05 September 2015
Biarkan mereka semua tau.
Debu jalanan ini menerpa wajah lesu dan kusam ini yang telah lelah melawan waktu yang berjalan kian melambat hari demi harinya, terasa panjang dan sepi. Canda tawa meraka mengingatkaa kembali 4 bulan yang lalu. Sepasang mata indah itu ada di hadapanku seraya berkata "Aku juga.. Apa kamu mau?" . Sangat miris aku mengingat detik demi detik semua yang telah kulewati bersamanya. Hingga akhirnya aku tau kaulah yang telah menghancurkanku.
Sulit untuk memendam amarah, begitu pula rasa sakit yang kian menyiksa hari demi harinya, saat kau tau bahwa hati ini telah hancur, kata maaf sudah tak berarti lagi bagiku.
Aku selalu mencoba untuk menghibur diri dengan selalu mencoba tersenyum, tertawa, agar bahagia, namun sulit untuk berpura pura seperti itu. Bertingkah layaknya tak ada yang telah terjadi, itulah aku kini.
Menyesal? Aku rasa tidak. Kecawa? Ya! Tepatnya itu. Jika hal yang sederhana dapat mengakibatkan rasa sakit ini, bagaimana bisa kau membuat hal yang rumit menjadi indah?
Mungkin memang tak lama, namun kenangan itu sulit untuk dihitung, dihapus, dan dilupakan. Menangis? Apa perlu aku seperti itu lagi? Menangisi orang yang tidak lagi mempedulikan aku, yang mungkin telah mengecewakan aku? Cukup sudah, terimakasih. Aku sudah tidak mau lagi.
"Sabar kamu harus kuat, ibu tau rasa sakit nya kamu, karna saat kamu sakit, ibu juga akan merasakan nya." tidak ingin ibu merasakan rasa ini yang cukup dalam, hingga membekas. Walau sulit, tetap harus mencoba.
Senyum ini terpasang jelas didepannya, kemudian luntur seiring langkahnya menjauh. Ingin rasanya berteriak dengan keras, dengan harapan semua beban akan hilang dilepas ke udara.
Agar burung di pohon tau dan mendengar bebanku untuk ia sampaikan kepadanya.
Agar tanah berguncang supaya dia tau emosi ini telah mengguncang hati yang tadi nya tegar menjadi lemah.
Juga agar angin tau, dan meniupkan awan hujan ke sini untuk mengguyurku dengan derai hujan yang dapat menyembunyikan tetes air mata ini. Dan kuharap matahari dapat melukiskan pelangi yang indah, begitu pula dapat melukiskan kembali senyum diwajahku yang telah lama hilang.
Bangkit dari kehancuran inilah yang sedang ku perjuangkan. Harga diri tentunya tak akan hilang jika aku dapat bangkit seraya berkata "aku tidak lagi mudah untuk dihancurkan!" Biarkan mereka semua tau.
Kamis, 03 September 2015
Serpihan
Saat semuanya pergi, tak ada yang berbeda. Yang berubah hanyalah waktu, antara aku dan kau sama sekali tidak. Sedih? Seperti nya tidak, tapi tanpa bisa membohongi diri ku sendiri, ada seauatu yang hilang, di suatu tempat yang sangat dalam, mungkin sangat kecil, namun sangat berarti. Serpihan kecil disana hilang terhapus oleh angin waktu yang telah menjawabnya, tanpa alasan yang pasti, aku hanya berkata "Ya!" dan mengaggap semuanya selesai dengan baik. Tetapi berbeda dengan apa yang sedang aku rasakan sekarang, kesunyian tertanam cukup dalam dikeramayan canda tawaku tiap hari, dan tiap detiknya. Detik kian detik nya waktu kulewati dengan senyuman hampa yang terlukis seiring keringnya air mata. Rasanya sudah tak sanggup lagi untuk menjatuhkan air mata untuk hal seperti itu. Batin ini sudah tak kuasa lagi menahan pilu yang menyekik dan menusuk kuat. Tak elok jika aku hancur dengan hal seperti ini. Minggu, 23 Agustus 2015
Hati
![]() |
Aku harap semua nya berjalan seauai harapan, tanpa ada hal lain yang dapat membuatnya menjadi kacau.
Aku akan selalu tersenyum walaupun hati ini entah seperti apa.
Sampai kapan kamu seperti ini hati? Kapan kamu sembuh? Coba katakan apa obatnya. Jika ada obatnya akan kucari kemanapun, asalkan hati bisa sembuh. Orang bilang seiring berjalanya waktu, hati akan sembuh, tapi menurutku, jika hanya bergantung pada waktu, semuanya akan mustahil terjadi, karena hati ini sudah jatuh terlalu dalam, tergores terlalu panjang dan terluka terlalu cepat.
Apa kalian tau? Hati ini juga pernah bahagia, bukan pernah lagi, tepatnya sering sekali bahagia, bahagia yang tak ada ujung nya, tapi kali ini hati sudah sakit, sudah takut untuk bahagia, sudah takut untuk percaya, sudah takut untuk menyayangi, karena takut kehilangan.
Bisakah semua kembali seperti semula? Ya, mungkin bisa. Bisakah kebahagiaan itu di ulang? Mungkin bisa, tapi tak akan sama seperti dulu. Kenapa? Semuanya sudah berbeda, walaupun bisa, itu semua tidak akan sebahagia dulu, karna aku tau hati mu sudah kosong, atau mungkin telah terisi yang lain. Maaf jika telah mengecewakan hatimu, tapi kau harus tau, hati ini juga sakit.
(23/8/2015)
Kamis, 23 Juli 2015
Aku
Itu semua hanya ada di dalam dongeng saja, yang sekarang ini terjadi hanyalah aku yang hidup di dunia nyata tanpa ada keraguan untuk terus melihat ke depan dan tak akan pernah melihat kebelakang, aku tidak berharap menemukan pangeran tampan atau pria gagah di sana, cukup kau yang dapat membuatku terus melangkah kedepan, membangunkanku disaat aku terjatuh dan menuntunku ke arah yang benar saat aku mulai melenceng dari jalanku.
Memahami mu butuh waktu yang cukup lama, aku kira aku telah cukup memahamimu, ternyata belum. Walau begitu tetap saja aku akan bertahan, karena walaupun kau tidak disini, aku percaya kau akan ada untuku.
Selasa, 21 Juli 2015
Sahabat? tidak! tetapi lebih dari itu ☺
biarkan waktu berputar, dan kehidupan berjalan sesuai garis takdirnya, mereka bilang "dimana ada pertemuan pasti akan ada perpisahan" perlu kau tau bahwa, aku akan tetap disini, menantimu juga pasti merindukanmu. sampai jumpa sahabatku, semoga sukses! jangan pernah lupakan aku ya, karna aku menyayangimu.
Kamis, 16 Juli 2015
Maaf
Rabu, 15 Juli 2015
Ada Saatnya
Sabtu, 04 Juli 2015
Sebuah Mimpi
Minggu, 28 Juni 2015
Serobek Kertas
Hari demi hari telah kita lewati, canda tawapun tak terhenti, dan ada saja sikapmu yang membuatku merasa nyaman dan diperhatikan. Bagiku kau mau menjadi sahabatkupun sudah lebih dari cukup. Semakin hari semakin lama rasa yang lama sudah ku hiraukan semakin sulit untuk dipendam, sudah sulit bagiku untuk membohongi diri sendiri. Dimalam yang dingin itu, kau bertanya tentang sesuatu, ingin sekali ku jawab pertanyaanmu, tapi aku takut, dan akupun membalikan pertanyaan yang sama padanya. Tapi kau terus memaksaku untuk menjawabnya lebih dahulu, akupun memberanikan diri untuk menjawabnya dengan serobek kertas yang bertuliskan namamu, berharap kau tak bisa membacanya. Tak ku sangka kau dapat mengerti tulisanku dan ternyata jawaban itupun berlaku untukmu. Di senja yang indah kala itu, tak kusangka kita merasakan hal yang sama, dan kita membuat komitmen itu untuk dijaga agar tidak hancur.
Setelah itu, banyak sekali yang telah kita lewati bersama, sangat bahagia rasanya kau mempedulikanku, memperhatikanku, dan mengerti tentang aku.
Waktu terus berjalan, kian lama kian berbeda, entah apa yang sebenarnya terjadi apakah ada sesuatu yang salah ataupun berubah? kutatap langit kala itu, tak ada hujan ataupun badai di sini, langit dan matahari bersinar cerah seakan mengajak ku untuk tersenyum dan melupakan hal itu, "mungkin ini hanya sebuah prasangka negatif ku." batin ini angkat bicara. Kujalani kembali apa yang telah terjadi, dengan penuh kesabaran dan pengertian aku berharap ini memang hanya sikapmu yang sebenarnya, dan bukan sebuah perubahan yang yang serius.
Pagi hari kuberharap kau kembali seperti senja kala itu, siang hari ku berharap dengan harapan yang sama, sore hari dan malam haripun selalu begitu.
Tak pernah tau apa yang kini kau rasakan, "masih adakah rasa yang dulu? apakah rasa itu masih sama seperti sebelumnya? " halilintarpun membangunkan lamunanku tentang dirimu, langit tampak kelam, berawan gelap namun hujan tak kunjung datang. Langit seakan mengerti perasaanku kala itu yang sedang kacau.
Matahari dari ufuk timur, membangunkanku dengan senyumnya yang elok seraya berkata "pertahankan semuanya dengan kesabaranmu, kamu pasti kuat!".
Kini, aku tidak pernah peduli lagi dengan sikapmu yang dingin seperti angin malam yang menusuk jiwa, aku hanya ingin kau tau seberapa besar dan tulus rasaku ini padamu. Hanya itu.
Sabtu, 27 Juni 2015
Emosi
Nah, untuk mengatasi hal seperti itu, disaat emosi kita memuncak kita harus menenangkan diri terlebih dahulu, jika sulit minumlah air putih, setelah itu cuci muka atau berwudhu. Saat emosi terasa sudah turun, pikirkan kembali apa masalah yang sedang dihadapi, dan carilah jalan keluarnya dengan pikiran yang tenang untuk mendapatkan solusi yang terbaik untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi.
Masih Belum Percaya Diri?
"kita harus memiliki sesuatu yang bisa kita banggakan, walaupun bagi orang lain sesuatu itu bukan apa-apa"
