Angin menerpa di keriuhan, nampaknya semua merasa bahagia didalam candaan, mereka bercanda gurau. Ditengah keramaian ini aku bertanya-tanya, apakah hanya aku sendiri di sini yang merasa bahwa aku masih tak dapat mengalihkan pikiran ku yang masih terus terbayang bayang oleh sosok nya yang sangat sulit untuk di lupakan. Lama tak berjumpa mungkin akan lebih mudah untuk melupakan, namun itu berbanding terbalik dengan kenyataan yang aku rasakan, sabagian hati ini masih mencari keberadaan nya, tak menghiraukan apa yang telah terjadi sebelumnya, namun hati ini merasa hampa, hilang, kemudian pergi. Mungkin dia tak pernah merasakan apa yang aku rasakan selama ini, tapi aku berterimakasih atas apa yang telah ia lakukan padaku. Menghargai itu pasti, namun kekecewaan atasnya tak kunjung berhenti sampai disini, di setiap kuputar ulang lagu kenangan itu, tiap nadanya menyayat hati menggores pilu. Derai mata yang bercucuran jatuh membasahi lembaran kenangan usang di genggaman. Menginginkan nya untuk di hancurkan oleh hati yang telah hancur. Yang memungkin kan semuanya di renggut oleh keangkuhan atau mungkin ke tidak tulusaan akan suatu hati yang tulus. Mungkinkah semuanya dapat berbalik? Tanyakan waktu, akankah sudi berpihak padaku?
Senin, 19 Oktober 2015
Minggu, 11 Oktober 2015
Hujan
Hujan hari ini turun pertama kali di SMA, tak ada yang berbeda sama sekali dengan hujan biasanya, tapi yang berbeda mungkin hanyalah aku, di tengah kecerian dan kebersamaan teman-teman ku yang lain, aku diam di tempat duduk ku, menulis cerita ini dengan ditemani lagu lagu mellow yang membawa suasana hati ini tenang, walau tampaknya tidak bahagia. Namun mungkin setidaknya aku masih dapat merasakan ketenangan. Ketenangan di atas rasa kecewa, mungkin kalianpun dapat memahami nya. Aku berubah? Ya aku tau! Mengapa? Mungkin karena dia. Di SMA aku merasa telah kehilangan diriku sendiri, aku tidak pernah lagi merasakan yang namanya bahasia bersama teman, walau teman SMA ku yang baru ini sangat baik, perhatian, dan senang bergurau. Tapi tetap saja aku masih sulit untuk tertawa lepas di atas beban.
Wahai hujan, mrngapa kau turun di langit senin senja? Apa engkau sengaja untuk melukiskan ingatan ku di pelupuk mata ini? Dan kemudian menginginkan adanya tetes air mata mengalir mengingat bagaimana dulu aku bahagia? Cukup! Aku lelah dengan kebahagiaan yang berujung kekecewaan. Kini kebencian tersirat mendalam di hati. Menusuk jantung, meremukan rusuk, dan melukai hati.
Atau hujan datang untuk menyembunyikan tetesan air mata ini? Karna di tengah hujan deras ini, derai mata mustahil untuk terlihat.
Saat hujan adalah saat saat oraang bersuka cita mereka riang gembira di bawah hujan, walau sebagian mungkin tidak sebahagia mereka, aku lah salah seorang dari mereka yang tidak menyukai hujan, harena hujan terlalu bahagia, aku benci bahagia, karena bahagiaku telah hilang.