Gadis itu berjalan dengan senyum yang selalu terlukis di wajahnya, bak angin sejuk yang menyebar ke setiap penjuru, ia sebarkan keceriaan yang ia bawa. tapi perlahan senyumnya memudar seiring lelaki itu berjalan kearahnya. Raut wajah tak bersahabat yang kini ia pasang.
Tanpa seorangpun tau, bahwa ia rasanya ingin sekali berteriak mengeluarkan emosi yang telah lama ia pendam. Juga rasa tak sanggup untuk bersikap seperti itu kepadanya yang menghantuinya seakan ia sesali. Awalnya ia pikir lelaki itu akan bertanya, atau mungkin menyadari apa yang sedang terjadi. Berharap adanya sapaan, Tapi nyatanya tak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibirnya kecuali tatapan mata seolah heran dan tak mengerti.
Hanyalah kekecewaan yang membekas di hati ini, amarah yang tadinya membara telah hilang seiring hilanya lelaki itu dikehidupan si gadis.
Tampak sebuah penyesalan yang kini ada pada hati gadis ini, karena amarah dapat menghancurkan dan merubah segalanya.
Amarah telah merubah gadis ramah ini menjadi marah. Amarah telah merubah gadis lugu menjadi garang. Amarah yang merubah gadis bahagia ini terpuruk.
Tapi Ia telah sadar apa yang harus ia lakukan, kini hanya perlu menunggu siapakah yang akan memulai? dia atu gadis ini? berharap semuanya selesai dengan cepat agar tak lagi ada beban yang gadis ini pikul.
Gadis ini telah kembali menjadi dirinya yang dulu, karena ia masih gadis yang dulu. tak ada yang berubah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar