"hai!" sapanya sambil melambaikan tangan ke arahku. Akupun secara tidak langsung menengok ke arahnya, dan membalasnya dengan senyum hangat, kemudian berkata "hai!". Hanya itu yang dapat keluar dari bibirku, tak kuasa untuk berkata hal yang lebih pada nya. Karena terlintas kembali apa yang dulu terjadi, seakan semuanya telah berbalik, yang tadinya aku sangat peduli namun ia tidak, sekarang aku sudah malas, bosan juga lelah untuk peduli, semua ini terjadi saat aku telah merasa kecewa. Kekecewaan ini terlalu banyak, dan akan merasa lebih kecewa lagi saat mengingat kebahagiaan singkat yang pernah aku rasakan. Namun luka ini terasa tak berakhir begitu luas dan dalam. "Mau pergi ke mana?" tambahnya. "emm.. Mungkin ke sana." jawabku ragu. "kalau begitu ayo, aku juga mau ke sana" ajaknya.
Semua semakin terasa aneh, ada yang mengganjal dari sikap nya yang kini jauh lebih manis dari pada sebelum nya.
Apa mungkin ini ada kaitannya dengan amarahku? Ataukah dia mencoba untuk memahami ku? Jika iya begitu, aku bersyukur, karena tidak selalu harus aku yang merasakan sakit di sini.
"hai! Hari ini kamu ekstra kurikuler?" tanya nya sambil berjalan ke arahku.
"tidak, memang nya kenapa?" jawab ku.
"Apa kamu mau pulang sekarang? " lanjut nya. "seperti nya iya, tapi aku ragu." balasku. "Ragu? Maksudmu?" tanya nya bingung. "Aku belum melihat Nz." jawabku sambil mencari Nz (Nz adalah teman ku, kita biasanya pulang bersama)
"Dia tadi sudah pulang duluan, ayo kamu ikut aku saja" ucapnya "Apa tidak keberatan?" tanyaku "Tentu tidak." lanjutnya dengan senyum lebar. "Kalau begitu, iya" jawabku.
Walau aku dan dia tidak seperti dulu, kini aku dan dia sudah lebih baik dari yang sebelumnya.
"wah ini hujan ya?" tanya ku. "wah hujan nya semakin besar, bagaimana ini?" ucapnya balik bertanya. "kalau begitu, lebih baik kita berteduh saja dulu di depan mini market itu" jawabku sambil menunjuk ke arah mini market yang aku maksud.
Alam serasa berpihak pada kami, menunggu hujan reda dengan nya, memang menyenangkan , terlebih ketika canda tawa mulai tergambar di sana.
Tak terasa waktu menunjukan pukul 5.03 sore, itu berarti kami sudah berteduh kurang lebih satu jam. Karena perkiraan hujan tidak akan reda, kami nekat menerobos derasnya hujan. "yakin mau sekarang?" tanya nya. "aku sih tidak masalah." jawab ku.
Saat di jalan canda tawa tak terhindarkan, sulit rasanya untuk berhenti tertawa. Kekonyolan nya yang sengaja ia buat agar aku tertawa benar benar ampuh saat itu.
Sahabat prioritas utama untuk ku, yang lain bukan. Mungkin semakin hari kalimat itu menjadi bukti bahwa aku lebih nyaman dan bahagia. Di cerita ini tidak seharusnya aku yang selalu tersakiti, aku juga ingin untuk bahagia dalam kisah cerita ini. Tidak akan ada yang tau bagaimana cerita ini akan berakhir. Entah bahagia ataupun sebaliknya. Tapi setidaknya dalam cerita ini aku pernah bahagia.
Minggu, 27 September 2015
Pernah bahagia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar