Hujan hari ini turun pertama kali di SMA, tak ada yang berbeda sama sekali dengan hujan biasanya, tapi yang berbeda mungkin hanyalah aku, di tengah kecerian dan kebersamaan teman-teman ku yang lain, aku diam di tempat duduk ku, menulis cerita ini dengan ditemani lagu lagu mellow yang membawa suasana hati ini tenang, walau tampaknya tidak bahagia. Namun mungkin setidaknya aku masih dapat merasakan ketenangan. Ketenangan di atas rasa kecewa, mungkin kalianpun dapat memahami nya. Aku berubah? Ya aku tau! Mengapa? Mungkin karena dia. Di SMA aku merasa telah kehilangan diriku sendiri, aku tidak pernah lagi merasakan yang namanya bahasia bersama teman, walau teman SMA ku yang baru ini sangat baik, perhatian, dan senang bergurau. Tapi tetap saja aku masih sulit untuk tertawa lepas di atas beban.
Wahai hujan, mrngapa kau turun di langit senin senja? Apa engkau sengaja untuk melukiskan ingatan ku di pelupuk mata ini? Dan kemudian menginginkan adanya tetes air mata mengalir mengingat bagaimana dulu aku bahagia? Cukup! Aku lelah dengan kebahagiaan yang berujung kekecewaan. Kini kebencian tersirat mendalam di hati. Menusuk jantung, meremukan rusuk, dan melukai hati.
Atau hujan datang untuk menyembunyikan tetesan air mata ini? Karna di tengah hujan deras ini, derai mata mustahil untuk terlihat.
Saat hujan adalah saat saat oraang bersuka cita mereka riang gembira di bawah hujan, walau sebagian mungkin tidak sebahagia mereka, aku lah salah seorang dari mereka yang tidak menyukai hujan, harena hujan terlalu bahagia, aku benci bahagia, karena bahagiaku telah hilang.
Minggu, 11 Oktober 2015
Hujan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar