Minggu, 28 Juni 2015

Serobek Kertas

Berawal dari sebuah keinginan, dan keberanian untuk menggapai impian yang sama, kita dipertemukan. Saling mendekatkan diri dan mengetahui satu sama lain, tanpa ada keraguan. Kita pun semakin hari semakin akrab, tak pernah terlintas sedikitpun di benak ku, apa yang dipikirkan olehmu, dan apa yang kita rasakan satu sama lain, telah ku hiraukan perasaan ku yang sebenarnya karna aku yakin itu tidak mungkin, dan tidak akan pernah terjadi.
Hari demi hari telah kita lewati,  canda tawapun tak terhenti, dan ada saja sikapmu yang membuatku merasa nyaman dan diperhatikan. Bagiku kau mau menjadi sahabatkupun sudah lebih dari cukup. Semakin hari semakin lama rasa yang lama sudah ku hiraukan semakin sulit untuk dipendam, sudah sulit bagiku untuk membohongi diri sendiri. Dimalam yang dingin itu, kau bertanya tentang sesuatu, ingin sekali ku jawab pertanyaanmu, tapi aku takut, dan akupun membalikan pertanyaan yang sama padanya. Tapi kau terus memaksaku untuk menjawabnya lebih dahulu, akupun memberanikan diri untuk menjawabnya dengan serobek kertas yang bertuliskan namamu, berharap kau tak bisa membacanya. Tak ku sangka kau dapat mengerti tulisanku dan ternyata jawaban itupun berlaku untukmu. Di senja yang indah kala itu, tak kusangka kita merasakan hal yang sama, dan kita membuat komitmen itu untuk dijaga agar tidak hancur.
Setelah itu, banyak sekali yang telah kita lewati bersama, sangat bahagia rasanya kau mempedulikanku, memperhatikanku, dan mengerti tentang aku.
Waktu terus berjalan, kian lama kian berbeda, entah apa yang sebenarnya terjadi apakah ada sesuatu yang salah ataupun berubah? kutatap langit kala itu, tak ada hujan ataupun badai di sini, langit dan matahari bersinar cerah seakan mengajak ku untuk tersenyum dan melupakan hal itu, "mungkin ini hanya sebuah prasangka negatif ku." batin ini angkat bicara. Kujalani kembali apa yang telah terjadi, dengan penuh kesabaran dan pengertian aku berharap ini memang hanya sikapmu yang sebenarnya, dan bukan sebuah perubahan yang yang serius.
Pagi hari kuberharap kau kembali seperti senja kala itu, siang hari ku berharap dengan harapan yang sama, sore hari dan malam haripun selalu begitu.
Tak pernah tau apa yang kini kau rasakan, "masih adakah rasa yang dulu? apakah rasa itu masih sama seperti sebelumnya? " halilintarpun membangunkan lamunanku tentang dirimu, langit tampak kelam, berawan gelap namun hujan tak kunjung datang. Langit seakan mengerti perasaanku kala itu yang sedang kacau.
Matahari dari ufuk timur, membangunkanku dengan senyumnya yang elok seraya berkata "pertahankan semuanya dengan kesabaranmu, kamu pasti kuat!". 
Kini, aku tidak pernah peduli lagi dengan sikapmu yang dingin seperti angin malam yang menusuk jiwa, aku hanya ingin kau tau seberapa besar dan tulus rasaku ini padamu. Hanya itu.

1 komentar: