Kamis, 03 September 2015

Serpihan

Saat semuanya pergi, tak ada yang berbeda. Yang berubah hanyalah waktu, antara aku dan kau sama sekali tidak. Sedih?  Seperti nya tidak, tapi tanpa bisa membohongi diri ku sendiri, ada seauatu yang hilang, di suatu tempat yang sangat dalam, mungkin sangat kecil, namun sangat berarti. Serpihan kecil disana hilang terhapus oleh angin waktu yang telah menjawabnya, tanpa alasan yang pasti, aku hanya berkata "Ya!" dan mengaggap semuanya selesai dengan baik. Tetapi berbeda dengan apa yang sedang aku rasakan sekarang, kesunyian tertanam cukup dalam dikeramayan canda tawaku tiap hari, dan tiap detiknya. Detik kian detik nya waktu kulewati dengan senyuman hampa yang terlukis seiring keringnya air mata. Rasanya sudah tak sanggup lagi untuk menjatuhkan air mata untuk hal seperti itu. Batin ini sudah tak kuasa lagi menahan pilu yang menyekik dan menusuk kuat. Tak elok jika aku hancur dengan hal seperti ini. 
Tak sampai pikir, dengan mudahnya kau melupakan semuanya bagaikan air ombak yang menyapu jejak kaki diatas pasir. Air hujan yang menghapus canda tawa, juga derai air mata. Ingatkah engkau dengan semua hal itu? ingatkah apa yang telah kita lewati? taukah apa yg aku rasakan? Dapatkah engkau merasakannya? Untuk kita mengucapkan selamat tinggal bukankah itu adalah hal yang mengejutkan? tapi aku yakin, suatu saat nanti semuanya mungkin akan terobati seiring berjalanya waktu. Walau... "Aku rindu canda yang melahirkan tawa, aku rindu segalanya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar